Rasa sayang kamu ke aku itu ibarat tinta.
Tinta yang tertulis diatas kertas kosong.
Kertas kosong itu hati aku.
Yang kosong karena tidak ada yang mengisi dan menghiasi.
Saat itu, kamu sayang aku. Yeah, aku percaya itu.
Karenanya, perlahan kamu goreskan tinta diatas kertas itu.
Hingga menjadi rangkaian kata-kata indah.
Tertulis pula nama kamu dan aku.
Aku sangat kagum dan bahagia karenanya.
Hingga tiba saat yang sangat aku takutkan.
Saat dimana tinta pada kertas tersebut semakin lama semakin memudar.
Memudar karena tetesan air yang semakin lama semakin membasahi kertas itu.
Tetesan air itu keraguan dan ketidakpercayaan kamu.
Keraguan dan ketidakpercayaan kamu bahwa aku sayang kamu,
Dan menerima kamu apa adanya dengan hati yang tulus.
Lalu, kertas itu rusak, rapuh dan menyisakan sedikit bekas tinta yang telah memudar.
Ya, hati aku rapuh.
Dan rasa sayang kamu memudar dan perlahan menghilang karena keraguan dan ketidakpercayaan.
Sangat sakit rasanya karena diragukan dan tidak dipercaya kamu.
Lalu, kamu remukkan kertas itu hingga menjadi lusuh.
Kamu buang kertas itu.
Dan kamu tinggalkan kertas itu begitu saja.
Ya, kamu remukkan hati aku, kamu buang aku, lalu kamu tinggal pergi.
Kamu menghilang.
Melupakan semua janji manis kamu.
Dan aku mendapat bukti pahitnya.
Kamu tidak akan tau betapa sakitnya.
Kamu tidak akan peduli dengan aku.
Aku, yang saat ini kecewa dan kesepian.
Karena kamu tinggal pergi.
Hati aku lusuh dan rapuh.
Bahkan hancur karena kamu.
(RB)
No comments:
Post a Comment